Tagged: kesehatan bayi

Lakukan Ini Jika Bayi Susah Makan Saat MPASI!

Lakukan Ini Jika Bayi Susah Makan Saat MPASI!

Saat bayi susah makan atau kehilangan nafsu makan tentu saja hati orang tua akan sulit untuk tenang. Namun, jangan langsung putus asa saat menghadapi situasi seperti ini. Daripada panik, sebaiknya Anda menganalisis apa yang menjadi penyebab bayi tidak mau makan dan cara tepat mengatasinya. 

Jika alasan susah makan disebabkan karena bayi sedang sakit, Anda juga perlu mengetahui gejalanya dan sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Masalah anak tidak mau makan bukanlah hal yang bisa diabaikan, karena si Kecil bisa saja kekurangan nutrisi yang mempengaruhi tumbuh kembangnya.

  1. Perkenalkan dengan menu tunggal buah-buahan

Memang saat ini banyak dokter dan tenaga kesehatan yang merekomendasikan pemberian MPASI 4 bintang pada saat anak menginjak usia 6 bulan. Akan tetapi tidak sedikit anak yang bisa kaget dengan berbagai rasa yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Anda dapat mulai memperkenalkannya dengan menu tunggal buah-buahan selama dua minggu pertama misalnya dengan puree pisang dan alpukat. Menu tunggal dengan rasa yang lebih sederhana akan membuat anak belajar rasa dengan nyaman.

  1. Coba menu tunggal karbohidrat dan sayuran

Anda bisa mencoba memberikan si Kecil menu tunggal karbohidrat dan sayuran. Buatkan puree kentang, puree wortel, atau puree ubi sebagai variasi makanan buah hati Anda. Tidak semua anak bisa langsung diberikan menu 4 bintang, yang terpenting anak tetap diajarkan makan saat masanya tiba. Tunda menggunakan bahan ikan seperti salmon apabila anak terlihat tidak suka. Anda bisa mencampur puree tadi dengan kaldu ayam maupun daging terlebih dulu. Rasa gurih pada kaldu diharapkan dapat disukai anak-anak. 

  1. Atur jadwal makan dan minum susu

Salah satu alasan anak tidak mau makan adalah karena ia merasa sudah kenyang. Anda harus pintar membuat jadwal makan dan minum susu untuk si Kecil dengan melihat pola dan kebiasaannya. Jangan memberikan makanan setelah anak minum susu karena pasti ditolak. Beri jeda 1.5 hingga 2 jam untuk memberi waktu anak merasa lapar.

  1. Berikan porsi sedikit tapi sering

Bagi anak yang sulit makan Anda dapat memberinya porsi kecil tetapi sering misalnya setiap 2 jam sekali. Selingi antara makanan berat, snack dan susu agar anak tidak bosan. Hal ini diharapkan dapat menambah berat badan anak dan menerapkan kebiasaan makan dengan terjadwal.

  1. Selingi makan dan minum menggunakan sendok

Bila si Kecil terlihat sudah tidak mau makan lagi, Anda dapat menyuapinya air mineral menggunakan sendok. Hal ini bertujuan agar sisa makanan di dalam rongga mulut dapat terdorong masuk ke lambung. Anak memang sedang dalam tahap penyesuaian belajar dari yang tadinya hanya minum saja sekarang harus belajar makan juga. Sehingga Anda dapat menerapkan siasat yang satu ini agar anak tetap mendapat asupan makanan dengan baik.

  1. Buat suasana makan yang berbeda

Jika si Kecil terlihat tidak mau makan, Anda bisa mengganti suasana. Makan harus di kursi makan, namun suasana meja makan bisa diubah, misalnya dengan mengganti perlengkapan makan si Kecil dengan warna-warna baru atau dengan memutar musik kesukaannya.  Saat makan, anak tidak boleh menghadap layar atau sambil bermain. Ini tujuannya agar ia mengerti, waktunya makan ia harus makan bukan melakukan aktivitas yang lain. 

  1. Batasi waktu makannya

Saat memulai makan dan si Kecil mengalami kesulitan, mungkin ia menjadi lama menghabiskan makanannya. Namun, Anda sebaiknya tidak memaksa si Kecil menghabiskan makanannya dengan memperpanjang waktu makan. 

Itulah beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi bayi susah makan. Namun jika kondisi ini terus berlanjut, jangan ragu untuk segera konsultasi dengan dokter untuk mengetahui lebih lanjut penyebab dari bayi Anda susah makan.

Tips Memilih Termometer Bayi Sesuai dengan Usianya

jenis termometer bayi

Melihat bayi yang biasanya tersenyum dan mudah tertawa mendadak menjadi rewel dan pendiam, tentu membuat tanda tanya dalam pikiran Anda. Jika anak Anda memegang kepalanya dan merasa hangat atau bayi terlihat tidak bersemangat, mungkin inilah saatnya untuk mengukur suhu tubuhnya. Mengukur suhu tubuh memang mudah, namun Anda harus ketahui, bahwa terdapat banyak jenis termometer bayi. Lantas, mana yang terbaik sesuai dengan usianya? Berikut lengkapnya. 

Macam-macam termometer bayi

Termometer merkuri kaca tidak disarankan karena dapat pecah dan memungkinkan merkuri menguap dan terhirup. Saat memilih termometer bayi, sebaiknya pertimbangkan opsi berikut:

1. Termometer digital

Termometer ini menggunakan sensor panas elektronik untuk mencatat suhu tubuh. Termometer digital dapat digunakan di rektum (rektal), mulut (oral) atau ketiak (ketiak). Suhu ketiak biasanya paling tidak akurat dari ketiganya.

2. Termometer telinga digital (membran timpani)

Termometer ini menggunakan pemindai infra merah untuk mengukur suhu di dalam liang telinga. Ingatlah bahwa kotoran telinga atau saluran telinga kecil yang melengkung dapat mengganggu keakuratan suhu termometer telinga.

3. Termometer arteri temporal

Termometer bayi ini menggunakan pemindai infra merah untuk mengukur suhu arteri temporal di dahi. Jenis termometer ini dapat digunakan bahkan saat anak sedang tidur. Termometer dot digital dan strip demam tidak disarankan.

Bacalah dengan cermat instruksi yang disertakan dengan termometer bayi. Sebelum dan setelah digunakan, bersihkan ujung termometer dengan mengikuti petunjuk. Jika Anda berencana menggunakan termometer digital untuk mengukur suhu rektal, dapatkan termometer digital lain untuk penggunaan oral dan beri label pada setiap termometer bayi.

Demi keamanan dan untuk memastikan termometer tetap akurat jangan pernah meninggalkan anak Anda tanpa pengawasan saat sedang mengukur suhu tubuhnya.

Tips memilih termometer bayi sesuai dengan usia

Jenis termometer terbaik atau tempat terbaik untuk mengukur termometer bayi, dalam beberapa kasus bergantung pada usia anak Anda.

1. Termometer bayi usia 0 – 3 bulan

Gunakan termometer digital biasa untuk mengukur suhu rektal. Penelitian baru menunjukkan bahwa termometer arteri temporal mungkin juga memberikan pembacaan yang akurat pada bayi baru lahir.

2. Usia 3 bulan – 4 tahun

Dalam rentang usia ini Anda dapat menggunakan termometer digital untuk mengukur suhu rektal atau ketiak, dapat menggunakan termometer arteri temporal. Namun, tunggu sampai bayi Anda berusia minimal 6 bulan untuk menggunakan termometer telinga digital.

3. Usia 4 tahun dan lebih tua

Pada usia 4 tahun, kebanyakan anak dapat memegang termometer digital di bawah lidah untuk waktu yang singkat untuk mendapatkan pembacaan suhu mulut. Anda juga dapat menggunakan termometer digital untuk mengukur suhu ketiak, atau menggunakan termometer arteri temporal atau termometer telinga digital.

Apabila hasil dari pengukuran suhu menunjukkan anak demam (38ºC ke atas) segera pergi ke dokter. Demam adalah tanda umum penyakit, tetapi itu tidak selalu berarti buruk. Faktanya, demam tampaknya memainkan peran kunci dalam melawan infeksi. Jika anak berusia lebih tua dari usia 6 bulan dan banyak minum, tidur nyenyak, dan terus bermain, biasanya demam tidak perlu diobati.

Jika Anda ingin memberikan obat pada anak Anda untuk mengatasi demam, tetap gunakan asetaminofen (tylenol, lainnya) sampai usia 6 bulan. Namun, untuk anak di bawah usia 3 bulan, jangan berikan asetaminofen sampai bayi diperiksa oleh dokter. Jangan pernah memberikan asetaminofen lebih dari yang direkomendasikan pada label untuk anak. Ketahuilah bahwa beberapa kombinasi obat yang dijual bebas mungkin mengandung asetaminofen sebagai bahannya.

Jika anak berusia 6 bulan atau lebih, ibuprofen (Advil, Children’s Motrin, lainnya) juga baik-baik saja. Baca label dengan hati-hati untuk dosis yang tepat. Jangan gunakan aspirin untuk mengobati demam pada siapa pun yang berusia 18 tahun atau lebih muda. Pastikan untuk selalu mengukur suhu tubuh dengan termometer bayi untuk memastikan sudah mereda.